Selasa, 30 Oktober 2012

peristiwa yang berhubungan dengan nilai pancasila

KATA PENGANTAR

            Segala puji dan syukur hanyalah milik Allah SWT yang telah melimpahkan ilmu. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasul beserta keluarganya. Serta kami berterima kasih kepada dosen mata kuliah  Pendidikan Pancasila yang telah memberikan kepercayaan kepada kami dalam menyusun makalah ini.
          Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila di Universitas Negeri Surabaya Jurusan Akuntansi. Makalah ini berjudul “PERISTIWA YANG BERHUBUNGAN DENGAN NILAI PANCASILA” ini kami buat dengan tujuan agar pembaca dapat menerima pengetahuan tentang Peristiwa yang berhungan dengan nilai pancasila.
  Dalam menyusun makalah ini penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan sebab pengetahuan dan pengalaman yang di miliki penulis terbatas ,cukup banyak tantangan dan hambatan yang penulis temukan dalam menyusun makalah ini. Kami mohon maaf apabila ditemukannya kesalahan. Kami penulis menerima kritik dan saran dari pembaca makalah.
          Akhir kata ,semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Sekian kata pengantar dari kami. Atas perhatiaannya kami ucapkan banyak terima kasih.
Surabaya, 28 Oktober 2012

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………..........  1  
DAFTAR ISI...............………………………………………………........   2
BAB 1 PENDAHULUAN……………………………………………....   3
A.     Latar belakang………………………………………………..  3
B.     Tujuan………………………………………………………...   3
BAB 2 RUMUSAN MASALAH……………………………………………..    4
BAB 3 PEMBAHASAN………………………………………….  5
1)      Sila ketuhanan yang maha esa……………………………………………..5
2)      Sila kemanusiaan yang adil dan beradab………………………………….6
3)      Sila persatuan Indonesia……………………………………………………8
4)      Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat,krbijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan……………………………………….9
5)      Sila keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia………………………..10

BAB 3 PENUTUP…………………………….............................................12
A.     Kesimpulan…………………………………………………..... 12
B.     Saran…………………………………………………………… 12
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................13





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Latar belakang penyusunan mengangkat judul makalah dari “peristiwa yang berhubungan dengan nilai pancasila”karena penyusun ingin membahas lebih rinci tentang nilai-nilai pancasila yang diterapkan dalam peristiwa di masyarakat .Dalam makalah ini banyak sekali peristiwa yang akan kita ketahui tentang makna yang terkandung dalam nilai-nilai pancasila.
B.     Tujuan
Tujuan mengangkat judul makalah ini adalah karena penyusun ingin rekan-rekan pembaca maupun penulis sendiri mengetahui bahwa dalam kehidupan sehari-sehari kita sendiri telah belum mengerti tentang hal-hal  tersebut. Tanpa hal itu disadari dengan kata lain jika peristiwa yang terjadi di sekitar kita akan tetapi kita tidak menghubungkan nya dengan nilai-nilai pancasila percumalah pamcasila sebagai dasar Negara kita untuk keseharian nya.







BAB II
RUMUSAN MASALAH
Dari peristiwa-peristiwa yang terjadi yang perlu kita ketahui yaitu tentang suatuhal yang berhubungan dengan nilai-nilai pancasila diantaranya:
1.      Nilai sila keberapakah peristiwa tersebut berhubungan erat?
2.      Apa arti jelasnya nilai tersebut dalam peristiwa itu ?
3.      Bagaimana tindakan kita sebagai warga Negara terhadap peristiwa itu?

















BAB II
PEMBAHASAN

  1. 1.   Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Maksudnya adalah tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain, yaitu tidak boleh memaksakan orang lain memeluk agama kita atau memaksa seseorang untuk berpindah dari agama satu ke agama yang lain. Negara memberikan jaminan kebebasan kepada warga negara untuk memeluk salah satu agama atau kepercayaan sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Kasus yang bertentangan dengan adanya sila pertama adalah :

a)      Bom Bali

Jakarta, Kompas – Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat (AS) menyatakan kesediaannya membantu Kepolisian Daerah (Polda) Bali untuk mengungkap kasus peledakan bom di Jalan Legian, Kuta, Bali, yang menewaskan sedikitnya 182 orang, Sabtu (12/10) malam. Bantuan serupa juga datang dari Polisi Federal Australia (AFP). Selain kedua tim tersebut, Polda Bali juga dibantu Polda Jawa Timur dan Jawa Tengah untuk menuntaskan kasus peledakan bom di Kuta itu. “Kita terbuka terhadap berbagai bentuk kerja sama bilateral atau kolektif dengan negara lain dalam upaya memerangi terorisme, termasuk joint investigation ataupun pertukaran informasi intelijen,” kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Hassan Wirajuda usai mengadakan pertemuan dengan para perwakilan asing di Departemen Luar Negeri, Jakarta, Senin (14/10). Perihal adanya bantuan FBI itu juga dibenarkan Kepala Badan Hubungan Masyarakat (Humas) Mabes Polri Inspektur Jenderal Saleh Saaf. Akan tetapi, ia belum mengetahui detail dari bantuan tersebut. Ia mengatakan, jajaran Kepolisian Negara RI (Polri), tambah Saleh, terbuka bagi negara mana pun yang ingin memberikan bantuan tenaga penyidiknya. “Tidak ada masalah soal itu, sebab kami pun selama ini juga sudah memiliki hubungan Interpol.” Ditegaskan, “Cuma kalau mereka datang diam-diam dan melakukan penyidikan sendiri, itu yang tidak boleh.” Sedangkan Pemerintah Australia maupun Inggris sejauh ini, menurut Saleh, baru menyampaikan kesediaan mereka untuk memberi bantuan kemanusiaan. “Seperti Australia, selain memberi bantuan tenaga medis, bahkan mereka juga sudah mengevakuasi 41 warga negaranya yang menjadi korban dalam ledakan tersebut,” ujarnya.
b)      Bom Bunuh Diri di Solo

Juru bicara Jamaah Anshorut Tauhid Jawa Timur Zulkarnain menduga bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh di Kepunton, Solo, Jawa Tengah, berkaitan langsung dengan gejolak yang terjadi di Ambon beberapa waktu lalu. “Pemerintah harus waspada, gejolak seperti di Ambon sudah menjalar dan tidak hanya terjadi di Ambon,” kata Zulkarnain kepada Tempo, Ahad 25 September 2011. Bom bunuh diri di Solo sendiri, tambah dia, merupakan imbas dari ketidakseriusan pemerintah dalam menuntaskan kasus Ambon.
Konflik yang terjadi di Ambon, tambah dia, telah menyulut banyak kelompok yang bersiap jihad ke Ambon. Hanya, pengetatan pintu-pintu masuk ke Ambon membuat banyak kelompok yang akhirnya memutuskan untuk menyalurkan niatan jihadnya di luar Ambon.
“Ini sebab-akibat, di Ambon, polisi tidak tegas dan terkesan diskriminatif,” kata Zulkarnain sembari mencontohkan tidak transparannya polisi dalam mengungkap kasus kematian seorang tukang ojek di Ambon.
“Kami tahunya si tukang ojek di Ambon itu tidak diotopsi. Jadi jangan heran kalau ada yang marah,” ujar dia. Tak hanya itu, polisi dalam kerusuhan di Ambon dinilai juga tidak transparan dalam menjelaskan terkait isu penembakan oleh sniper.
Zulkarnain melihat, selama pemerintah ataupun penegak hukum tidak tegas dan transparan dalam menyikapi kasus Ambon, selama itu pula aksi-aksi seperti yang terjadi di Solo akan terus terulang.

Dari contoh  kasus tersebut diatas menandakan bahwa sudah tidak relevannya warga indonesia dengan nilai pancasila khususnya pada sila pertama. Dari kasus pertama dikatakan bahwa pelaku melakukan hal tersebut dengan alasan jihad, sedangkan pada kasus kedua yaitu menunjukkan bahwa adanya pendangkalan iman seseorang. Hal tersebut jelas sangat bertentangan dengan nilai pada sila pertama tentang Ketuhanan Yang Maha Esa yaitu menghilangkan nyawa seseorang sekalipun alasannya adalah berjihad dan membela agama islam. Belajar dari kasus pengeboman yang sering terjadi di berbagai daerah seharusnya pemerintah mengadakan tindakan yang tegas kepada pelaku bom, memberikan hukuman kepada pelaku. Pada kasus pengeboman yang semakin marak ini terlihat pemerintah yang seolah jalan ditempat,tidak adanya tindakan yang pasti. Tindakan dari pemerintah sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya bentuk tindakan provokasi terhadap kerukunan umat beragama. Banyaknya kasus bom menunjukkan kegagalan pemerintah dalam memayungi keamanan pada masyarakat, kegagalan dalam menjaga kerukunan umat beragama yang notabennya indonesia terdiri dari beragam agama’
  1. 2.    Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

Pada sila kedua ini memiliki makna manusia diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, yang sama haknya dan kewajiban-kewajiban azasinya, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, dan keparcayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya. Karena itu dikembangkanlah sikap saling ,mencintai sesama manusia, sikap tenggang rasa serta sikap tidak terhadap orang lain. Kemanusiaan yang adil dan beradab berarti menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan berani membela kebenaran dan keadilan. Manusia adalah sederajat, maka bangsa Indonesia merasakan dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.
Kasus yang bertentangan dengan sila kedua ini adalah :
a)      Rakyat Miskin Bulan-bulanan Ketidakadilan
                                    
Saiful Arif, selaku bidang operasional di LBH Surabaya mengungkapkan, masyarakat miskin selama ini masih menjadi aktor utama ketidakadilan. Sehingga justru di forum-forum hukum, masyarakat miskin menjadi bulan-bulanan kepastian tanpa keadilan hukum.
“Suatu contoh kasus, konflik agrarian, sengketa masih mewarnai perjalanan di tahun 2009, sebagian besar adalah sengketa-sengketa lama yang tidak kunjung menemukan jalan keluar, aktor-aktor lama masih mendominasi konflik agraria di Jawa Timur, yakni TNI, PTPN, Pemerintah daerah, serta pihak Swasta,” ungkapnya, di Kantor LBH Surabaya, Jalan Kidal No 6 Surabaya, Selasa (29/12/2009). LBH Surabaya mencatat telah terjadi penggusuran terhadap 389 PKL yang dilakukan Pemerintah kota Surabaya. Dia menjelaskan, Pemkot Surabaya di tahun 2009 melakukan penggusuran lebih dari 750 rumah warga miskin yang berada di sitren kali Wonokromo.
“Apa yang dilakukan Pemkot Surabaya dan Satpol PP tersebut merupakan bentuk main hakim sendiri, yang sangat berlawanan dengan ketentuan-ketentuan konstitusi, bahwa Negara Indonesia adalah Negara hukum,” jelas Arif.
Sementara itu, Syaiful Aris, selaku Direktur LBH Surabaya mengatakan, bagi buruh di Jawa Timur tahun 2009 ini juga masih menjadi tahun yang kelam. Cita-cita hidup layak belum juga dapat diwujudkan, karena kebijakan upah yang masih dimanipulatif, agar upah buruh serendah-rendahnya.
“Menurut catatan yang ada di LBH Surabaya, ada 83 kasus yang melibatkan lebih dari 40 ribu buruh yang terjadi sepanjang tahun ini, dan sebagian besar kasus tersebut belum mendapat penyelesaian,” katanya.
Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang di hadapi oleh seluruh pemerintahan yang ada di dunia ini. Contoh kasus diatas hanyalah beberapa potret tentang ketidakadilan pemerintah kepada rakyat miskin, tidak adanya tindak lanjut dari pemerintah dalam memberi bantuan ataupun jaminan kepada rakyat miskin. Di Indonesia banyak sekali daerah-daerah miskin yang tidak tercium oleh pemerintah. Dalam hal ini pemerintah seharusnya memberikan pemerataan pembangunan atau  bantuan kepada rakyat miskin terutama di daerah pedesaan. Seharusnya pemerintah juga harus memberikan pelayanan dan fasilitas kepada masyarakat miskin seperti pendidikan, kesehatan, air minum dan sanitasi, serta transportasi. Gizi buruk masih terjadi di lapisan masyarakat miskin. Hal ini disebabkan terutama oleh cakupan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin yang belum memadai. Bantuan sosial juga sangat dibutuhkan oleh mereka seperti kepada orang-orang penyandang cacat, lanjut usia, dan yatim piatu. Sarana transportasi juga harus diperhatikan pada daerah terisolir untuk mendukung penciptaan kegiatan ekonomi produktif bagi masyarakat miskin.
  1. 3.   Sila Persatuan Indonesia
Sila Persatuan Indonesia, menempatkan manusia Indonesia pada persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan Bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Menempatkan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan pribadi, berarti manusia Indonesia sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan Negara dan Bangsa, bila diperlukan. Sikap rela berkorban untuk kepentingan negara dan Bangsa, maka dikembangkanlah rasa kebangsaan dan bertanah air Indonesia, dalam rangka memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Persatuan dikembangkan tas dasar Bhineka Tunggal Ika, dengan memajukan pergaulan demi kesatuan dan persatuan Bangsa Indonesia. Kasus yang menyimpang dari nilai sila ketiga ini diantaranya adalah :
a)      Banyaknya Aliran Sesat Yang Muncul
JEMBER– Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember menangani sebanyak lima kasus aliran sesat di kabupaten setempat, yang semuanya bisa diatasi tanpa kekerasan. Ketua MUI Jember bidang Fatwa dan Hukum, Abdullah Samsul Arifin, Selasa menuturkan, pihaknya banyak menerima keluhan dari masyarakat terkait dengan adanya aliran sesat yang meresahkan di sejumlah daerah. “Kami menangani sebanyak lima kasus aliran sesat selama beberapa pekan terakhir, namun semuanya bisa diatasi tanpa ada aksi kekerasan,” tutur Abdullah yang akrab disapa Gus Aab. Menurut dia, faktor yang menyebabkan timbulnya aliran sesat, antara lain keterbatasan keilmuan yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan dan motivasi pelaksanaan ibadah yang kurang tepat.
“MUI Jember selalu melakukan dialog dan membina penganut aliran sesat itu, agar kembali ke jalan yang benar sesuai ajaran agama Islam,” ucap Gus Aab yang juga Ketua PCNU Jember. Kasus aliran sesat yang terbaru adalah aliran yang diasuh oleh Yayasan Qodriyatul Qosimiyah di Kecamatan Wuluhan karena ucapan kalimat syahadat tersebut menyimpang dari ajaran agama Islam. Anggota MUI Jember lainnya, Baharudin Rosyid, menambahkan biasanya tokoh aliran sesat tersebut bukan berasal dari kalangan intelektual, dan mencari terobosan baru yang mudah diikuti oleh masyarakat. “Biasanya mereka masih mencari jati diri tentang agama Islam, seperti yang dilakukan Yayasan Qodriyatul Qosimiyah yang mengarang buku kitab kuning sendiri, sehingga menyalahi ajaran Islam dan sudah dinyatakan sesat oleh MUI Jember,” tuturnya. Menurut Baharudin yang juga Pembina Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jember, kriteria aliran sesat antara lain mengingkari salah satu dari enam rukun iman dan lima rukun Islam, menyakini atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan Al Quran dan sunnah, dan meyakini turunnya wahyu setelah Al Quran. “Saya mengimbau masyarakat tidak main hakim sendiri dan bertindak anarkhis, apabila ada aliran yang diduga sesat dan menyimpang dari ajaran agama Islam. Lebih baik dilaporkan ke tokoh agama setempat atau MUI Jember,” katanya, menambahkan.(republika.co.id)

Dari contoh  kasus perpecahan diatas memang harus dilakukan tindakan tegas dari pihak berwenang. Adanya tindakan tegas untuk membubarkan aliran yang dapat menyesatkan umat islam, dan jika tetap membantah maka harus diberikan hukuman yang dapat menimbulkan efek jera. Bisa juga dilakukan dengan melakukan pendekatan secara spiritual. Sedangkan dalam kasus keluarnya papua seharusnya pemerintah dapat menghimbau kepada seluruh menteri-menterinya untuk Menciptakan kondisi yang mendukung komitmen, kesadaran dan kehendak untuk bersatu dan membiasakan diri untuk selalu membangun konsensus, menghilangkan kesempatan untuk berkembangnya primodialisme sempit pada setiap kebijaksanaan dan kegiatan, agar tidak terjadi KKN,dan juga menumpas setiap gerakan separatis secara tegas dan tidak kenal kompromi.

  1. 4.        Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan.

Artinya manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama. Dalam menggunakan hak-haknya ia menyadari perlunya selalu memperhatikan dan mengutamakan kepentingan negara dan kepentingan masyarakat. Karena mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama, maka pada dasarnya tidak boleh ada suatu kehendak yang dipaksakan kepada pihak lain. Sebalum diambil keputusan yang menyangkut kepentingan bersama terlebih dahulu diadakan musyawarah. Keputusan iusakan secara mufakat. Musyarwarah untuk mencapai mufakat ini, diliputi oleh semangat kekluargaan, yang merupakan ciri khas Bangsa Indonesia.
Manusia Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi setiap hasil keputusan musywarah, karena semua pihak yang bersangkutan harus menerimanya dan melaksankannya dengan baik dan tanggung jawab.
Kasus yang menyimpang dari sila ini adalah :
a)      Hukuman antara koruptor? dengan pencuri kakao, dan semangka.
Saya tidak tahu apakah Polisi dan Jaksa kita kekurangan pekerjaan sehingga kasus pengambilan 3 biji kakao senilai Rp 2.100 harus dibawa ke pengadilan. Begitu pula dengan kasus pencurian satu buah semangka, di mana kedua tersangka disiksa dan ditahan polisi selama 2 bulan dan terancam hukuman 5 tahun penjara. Sebaliknya untuk kasus hilangnya uang rakyat senilai rp 6,7 trilyun di Bank Century, polisi dan jaksa nyaris tidak ada geraknya kecuali pak Susno Duadji yang ke Singapura menemui Anggoro salah satu penerima talangan Bank Century. Ini juga membuktikan bagaimana Indonesia yang kaya alamnya ini tidak memberi manfaat apa-apa bagi rakyatnya. Pihak asing bebas mengambil minyak, gas, emas, perak, tembaga senilai ribuan trilyun/tahun dari Indonesia. Tapi rakyat Indonesia mayoritas hidup miskin. Baru mengambil 3 biji kakao saja langsung dipenjara.
Itulah gambaran hukum yang terjadi di Indonesia. Tidak adanya keadilan hukuman antara rakyat miskin dengan orang yang berkuasa. Hal in menunjukkan bahwa hukum di Indonesia dapat dengan mudahnya diperjual belikan bagi mereka yang mempunyai uang. Memang sungguh ironis ini terjadi dinegara kita, yang notabennya adalah negara hukum, tetapi hukum yang berjalan sangatlah amburadul. Seharusnya pemerintah lebih tegas kepada mafia hukum, yang telah banyak mencuri hak-hak rakyat kecil. Satgas pemberantasan mafia hukum seharusnya segera melakukan langkah-langkah penting. Salah satu yang perlu dilakukan adalah memberikan efek jera kepada para pejabat yang ketahuan memberikan fasilitas lebih dan mudah kepada mereka yang terlibat dalam kejahatan. Selain itu, kepada para pelaku kejahatan yang terbukti mencoba atau melakukan transaksi atas nama uang, harus diberikan hukuman tambahan. Memberikan efek jera demikian akan membuat mereka tidak ingin berpikir melakukan hal demikian lagi.
  1. 5.        Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
                                                                                                              
Maksudnya yaitu manusia Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan soial dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam rangka ini dikembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Untuk itu dikembangkan sikap adil terhadap sesama, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta menghormati hak-hak orang lain.
Kasus yang terjadi dari penyimpangan sila kelima ini diantaranya adalah :


a)      Kehidupan antara warga Jakarta dengan Papua

Kehidupan masyarakat papua dengan masyarakat jakarta tentulah sangat berbeda, yang penduduknya juga merupakan penduduk Indonesia juga, tetapi kehidupan mereka sangat jauh berbeda. Masih banyak masyarakat papua yang memakai koteka, pembangunan di derah tersebut juga tidak merata. Kita bandingkan saja dengan kehidupan masyarakat di Jakarta, banyak orang-orang  memakai pakaian yang berganti-ganti model, banyak bangunan menjulang tinggi.
b)      Kemiskinan di Papua

Jayapura, Kompas – Jumlah penduduk miskin di sejumlah provinsi diperkirakan
meningkat sejalan dengan melonjaknya harga pelbagai kebutuhan dan tarif
transportasi. Kemiskinan itu makin terasa karena pendapatan penduduk umumnya
tidak meningkat–kalaupun ada peningkatan hal itu tidak signifikan.
Menurut data yang diperoleh di Papua, Senin (21/3), jumlah penduduk miskin di
pulau yang amat kaya sumber daya alam itu 80,07 persen atau sekitar 1,5 juta
jiwa dari 1,9 juta penduduk Papua (data tahun 2001). Angka ini tidak berubah
karena sejak diberlakukannya Undang-Udnang (UU) Otonomi Khusus sejak akhir
2001-Maret 2005, sejumlah daerah belum memberi kontribusi bagi pemberantasan
sejumlah kategori kemiskinan. Angka kemiskinan di Papua diperkirakan akan
meningkat dengan kenaikan harga BBM.
Provinsi lain yang juga kaya sumber daya alam seperti Kalimantan Timur (Kaltim)
menghadapi masalah berat dari tingginya angka warga miskin. Di Kaltim jumlah
penduduk miskin mencapai 12 persen (328.000 orang dari 2,7 juta jiwa).

Dari kasus tersebut seharusnya pemerintah lebih tergerak untuk melakukan sesuatu dan melakukan perubahan bagi kehidupan warga di Papua. Pemerintah terjun langsung memberikan bantuan kepada masyarakat di daerah tersebutsupaya tidak ada oknum yang ingin memanfaatkannya. Pemerintah juga harus melakukan pemerataan pembangunan, transportasi, pendidikan, kesehatan dan lainnya di pedesaan, tidak hanya di kota-kota besar.
Pemerintah juga harus melakukan pendekatan kepada masyarakat papua supaya tidak lagi memakai koteka meskipun itu merupakan peninggalan nenek moyang yang ingin tetap dilestarikan, tetapi mengikuti budaya dan perkembangan jaman juga penting.












BAB III
PENUTUP

a)      Kesimpulan
  • Sudah tidak relevannya nilai-nilai pancasila dengan kehidupan sehari-hari.
  • Tidak adanya ketegasan dari pemerintah terhadap kasus-kasus yang terjadi.
  • Kurangnya kepemimpinan dalam menjamin kerukunan antar umat




















DAFTAR PUSTAKA
  • Mulyana, Rohmat. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta
  • Ritzer, George,. dan Douglas J.Goodman. 2007. Teori Sosiologi Modern, Edisi ke-6. Jakarta: Kencana.
  • Sitorus, M. 1995. Berkenalan Dengan Sosiologi, Jilid 1A Untuk SMU. Jakarta: Erlangga
  • Wadi, Hairil, dan Syafruddin. 2006. Buku Ajar Sosiologi Umum. Mataram: FKIP Universitas Mataram
  • Buku catatan Dasar dan Konsep PKn Semester 1
  • www.wikipedia.org









Jumat, 28 September 2012

makalah ilmu ekonomi


PENGANTAR ILMU EKONOMI “KEGIATAN EKONOMI”

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Latar belakang penyusunan mengangkat judul makalah “kegiatan ekonomi”, karena penulis ingin mengetahui bahwa dalam kegiatan ekonomi terdapat tiga factor yang saling berpengaruh, factor produksi, distribusi dan konsumsi. Ketiga factor tersebut saling berpengaruh apabila salah satu factor tidak berjalan atau terhenti maka tidak akan terjadi kegiatan ekonomi tersebut.
B.     Tujuan
Tujuan mengangkat judul makalah ini adalah karena penyusun ingin rekan-rekan pembaca maupun penulis sendiri mengetahui bahwa dalam kehidupan sehari-sehari kita sendiri telah melakukan kegiatan ekonomi tersebut. Tanpa hal itu disadari dengan kata lain setiap manusia ingin memperoleh barang dan jasa berarti mereka telah melakukan kegiatan ekonomi.
BAB II
                                                    PEMBAHASAN
                                             KEGIATAN EKONOMI
Kegiatan ekonomi ialah kegiatan yang dilakukan manusia untuk memperoleh barang dan jasa. Dapat pula dikatakan, kegiatan ekonomi adalah kegiatan manusia untuk mencapai kemakmuran. Ada tiga macam.kegiatan ekonomi. Ketiga macam kegiatan ekonomi itu ialah : produksi, konsumsi dan distribusi
a.      Produksi
Di manakah barang sebagai alat pemuas kebutuhan dapat kita peroleh ? Barang itu tersedia di alam yang luas ini, tetapi barang-barang tersebut kebanyakan belum secara langsung dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan. Dapat dikatakan bahwa barang yang disediakan oleh alam tidak semua dapat langsung digunakan oleh Manusia.
Coba perhatikan dua daftar barang di bawah ini
Kelompok I telur, sayuran, buah-buahan, dan beras.
Kelompok II : besi, kayu, batu kapur, dan minyak bumi mentah.
Barang-barang pada kelompok: I dapat langsung dipakai untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sedangkan barang-barang pada kelompok II belum dapat secara langsung dipakai untuk memenuhi kebutuhan sebelum diolah terlebih dahulu. Misalnya besi, diolah menjadi gunting, cangkul, mesin-mesin dan sebagainya. Jadi, kelompok barang-barang II dapat dipergunakan jika diolah atau diproduksi terlebih dahulu. Barang itu disebut barang dasar, atau bahan baku.
Produksi adalah usaha manusia untuk menghasilkan suatu barang menjadi lebih berguna untuk memenuhi kebutuhan, atau usaha manusia untuk meningkatkaan kegunaan suatu barang. Hasil produksi disebut produk. Kerja-yang menghasilkan produk disebut proses produksi. Orang atau badan yang melaksanakan proses produksi disebut produsen. Sedangkan tujuan dari produksi  ialah untuk menyediakan barang kebutuhan bagi para konsumen (pernakai).
Untuk mengadakan produksi diperlukan faktor-faktor produksi. Misalnya membuat roti, maka diperlukan beberapa faktor produksi yaitu sebagai berikut.
  1. Orang yang melaksanakan (yang bekerja).
  2. Tepung, soda, roti, telur sebagai bahan bakunya.
  3. Alat-alat seperti kompor, panci, mesin pembakar, dan pengetahuan atau keahlian ter­masuk modal.
Dari perpaduan ketiga faktor tersebut, roti akan terwujud. Jika salah satu faktor itu tidak ada, maka roti tidak akan dapat terwujud.
Produksi meliputi bermacam-macam usaha. Produksi dapat menghasilkan barang dan jasa yang sangat dibutuhkan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Suatu rangkaian atau gabungan kegiatan yang bertujuan menghasilkan barang baru disebut proses produksi. Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat bermacam-macam proses produksi.



Misalnya;
  1. Pada masyarakat nelayan
Faktor produksinya ialah manusia, ikan, modal yang berupa perahu, jaring, dan keahlian. Prosesnya dimulai dari menangkap ikan, setelah terkumpul kemudian diadakan pemilihan ikan yang sejenis. Ikan tersebut ada yang langsung didistribusikan, ada pula yang diproses untuk diasinkan, dan lain-lain.
  1. Pada masyarakat pertanian
Faktor produksinya ialah manusia, tanaman, modal yang berupa sawah, cangkul, dan keahlian dalam bertani. Prosesnya dimulai dengan mengolah tanah, bibit tanaman, pemeliharaan, pemupukan, kemudian sampailah ke masa panen. Setelah panen, hasilnya dapat dikonsumsi langsung untuk kebutuhan sendiri atau dijual kepada orang lain
Dalam pengadaan pakaian, mulai dari menanam kapas, hingga menjadi pakaian yang siap kita pakai, proses produksinya merupakan rangkaian kegiatan yang sangat panjang dan tidak mudah. Pelaksanaannya harus tahap demi tahap. Setiap tahap berkaitan dengan tahap yang lain serta memakan waktu sangat lama. Untuk mengerjakannya dibutuhkan tenaga yang tidak sedikit pula: Coba perhatikan rangkaian pekerjaan (proses produksi pakaian) berikut ini ! Menanam kapas, memetik buahnya, mengangkut ke pabrik pemintal, mengangkut benang ke pabrik tenun, menenun, mengangkut ke toko, kemudian memotong, dan menjahit. Semuanya itu memerlukan pemikiran, perencanaan, tenaga, modal, keahlian, dan biaya. Di samping itu juga diperlukan jasa jasa para ahli, jasa para pengusaha, dan lain-lainnya.
Proses produksi ternyata berlangsung dengan bantuan bermacam- macam kegiatan. Tiap kegiatan dalam proses produksi merupakan suatu produksi pula. Rangkaian kegiatan kerja yang sangat panjang seperti di atas tidak hanya dalam usaha mengadakan pakaian saja, tetapi semua usaha menjadikan barang-barang tentu melalui rangkaian kegiatan kerja seperti di atas. Dengan demikian. proses produksi berlangsung dengan bantuan bermacam-macam produksi.
Produksi yang membantu proses produksi secara bertahap adalah sebagai berikut:
1.      Agraris yaitu pengolahan tanah untuk mendapatkan hasil.
2.      Ekstraktif yaitu pemungutan Benda-benda yang disediakan oleh alam
3.      Industri atau kerajinan yaitu mengolah bahan dasar.
4.      Perdagangan yaitu pemungutan dan penyaluran hasil produksi ke tempat-tempat yang membutuhkan.
5.      Jasa jasa yaitu semua yang membantu tahap-tahap produksi, seperti jasa para ahli, jasa bank yang memberi pinjaman kepada para pengusaha untuk mendirikan industri, pengangkutan, perdagangan, dan lain-lain yang ditujukan kepada para konsumen. Jasa ternyata juga merupakan bagian dari proses produksi.


b.      Konsumsi
Konsumsi ialah pemanfaatan kegunaan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan, sehingga kegunaan barang atau jasa tersebut secara berangsur-angsur atau sekaligus habis. Konsumsi bertujuan untuk mencapai pemenuhan kebutuhan. Orang yang mempergunakan`barang atau jasa disebut konsumen. Kebutuhan konsumen akan suatu barang, menyebabkan produsen selalu berusaha memproduksi barang. Distributorlah yang menjadi perantara antara produsen dan konsumen. Jadi, antara produsen, distributor, dan konsumen saling berkaitan.
Di dalam menyalurkan hasil produksinya produsen dapat secara langsung maupun tidak.
c.       Distribusi
Barang basil produksi yang masih berada di tangan produsen agar dapat segera dimanfaatkan oleh orang yang membutuhkan, harus segera disalurkan. Usaha menyalurkan Barang hasil produksi dari produsen kepada konsumen dinamakan distribusi. Sedangkan orang atau badan yang menyalurkan barang disebut distributor. Jadi, Barang-barang hasil produksi harus segera didistribusikan atau disalurkan oleh produsen kepada konsumen (pemakai).
Dengan usaha distribusi, Barang basil produksi menjadi berguna untuk memenuhi kebutuhan manusia. Oleh karena itu, distribusi itu sendiri termasuk usaha produksi jasa.
Manfaat adanya distribusi yaitu sebagai berikut.
  1. Barang basil produksi tidak menumpuk di satu tempat, apalagi di tempat produsen.
  2. Kebutuhan daerah yang tidak berproduksi akan terpenuhi.
Contoh:
Di Gresik; Jawa Timur terdapat pabrik semen. Apabila tidak ada distribusi, semen tersebut akan menumpuk di pabrik (Gresik) saja. Sedangkan daerah-daerah lainnya, sangat membutuhkan, karena di daerah-daerah tersebut tidak ada produsennya. Dengan adanya distribusi semen, kini orang-orang yang berada di daerah lain dapat membeli kepada distributor semen Gresik yang ada di daerahnya masing-masing.
Untuk menyalurkan barang dari produsen ke konsumen melibatkan beberapa pihak, seperti : pedagang, perantara khusus, eksportir-importir, dan lembaga distribusi lainnya.
a.       Pedagang adalah orang yang memperjualbelikan barang-barang atas prakarsa dan risiko sendiri. Pedagang dibedakan menjadi dua, yaitu pedagang besar (grosir) dan pedagang eceran (warung, toko, kios) dan lain-lain.
b.      Perantara khusus terdiri atas : agen, makelar, dan. komisioner.
ü  Agen adalali.orang atau perusahaan perantara atas nama perusahaan tertentu yang mengusahakan penjualari barang produksi perusahaan:tersebut ke tangan konsumen. Makelar (broker) adalah perantara atas nama orang lain (yang memberikan kuasa) untuk menearikan barang bagi, pembeli atau menjualkan barang milik orang lain.
ü  Bidang usahanya antara lain perantara jual-beli barang, Surat-surat berharga dan lain-lain.
ü  Komisioner bertugas mempertemukan antara pembeli dan penjual. Ia memperoleh imbalan dari kedua belah pihak. Besar kecilnya komisi diatur melalui perundingan.

c.       Eksportir dan importer
Orang atau perusahaan yang bertugas menyalurkan barang dari dan ke luar negeH dalam jumlah besar.
ü  Ekspor : mengirim barang-barang ke luar negeri
ü  Impor : mendatangkan barang-barang dari luar negeri.
d.      Lembaga pembantu lainnya, seperti : bank, perusahaan, pengangkutan, periklanan, dan lain-lain.
Distribusi barang dan jasa dalam suatu negara diusahakan agar dapat merata ke,seluruh lapisan masyarakat, sehingga terpenuhii semua kebutuhanmasyarakat negara tersebut;
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik oleh penulis dari makalah in yang berjudul “kegiatan ekonomi”. Yaitu:
1.      Kegiatan ekonomi adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia untuk memperoleh barang dan jasa
2.      Produksi adalah kegiatan manusia untuk menghasilkan suatu barang menjadi lebih berguna, hasil produksi adalah produk pekerjaannya disebut produksi dan orang yang melaksanakannya adalah produsen
3.      Konsumsi adalah pemanfaatan, kegunaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan orang yang mempergunakan barang dan jasa di sebut konsumen
4.      Distribusi adalah usaha menyalurkan barang dari produsen ke konsumen orang atau badan yang melaksanakan yang disebut distributor.
B.     Saran
Dari makalah yang telah  penulis buat, mungkin terdapat kesalahan dan kekurangan baik itu dari penulisan atau dari kata-katanya, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik  dari para pembaca, agar dapat memberikan motivasi atau nasihat guna memperbaiki makalah ini nantinya.



DAFTAR PUSTAKA

Sugianto, Katijan. 1995. Ekonomi. Surakarta. PT. Pabelan.
Swasono, Sriedi. 1983. Koperasi di dalam Orde Ekonomi Indonesia. Jakarta. Universitas Indonesia